Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Wednesday, July 28, 2021

Berani Bermimpi

Sering kita bertanya-tanya, tentang bagaimana keindahan Aurora di Murnmask ala perang dunia kedua.
Kadang kita juga berandai-andai, tentang bagaimana hangat senja dengan balon udara di Cappadocia.
Tapi apakah benar hanya Angels Fall di Venezuela yang punya keindahan tentang ketinggian?
Atau, hanya Borobudur yang tersembunyi di perbukitan Magelang, yang bisa mendefinisikan tentang kemegahan?

Aku kira kita semua sering bertanya-tanya, dari definisi-definisi kehidupan yang kita jalani.
Lalu, sudahkah kita menemukan pengertian yang sejati, dan juga Ilahi?
Atau hanya sibuk dengan rangkaian kata, rasa, serta cita yang tak lain hanya berpusat pada diri kita?
Dan sekarang, saat pena Sarasaku hendak menuliskan rangkaian mimpi di bulan Januari,
tanganku terhenti, memintaku melihat kembali, sembari berlahan membuka lembaran-lembaran yang telah terisi.

Yang tak kusadari sudah hampir 19 bulan aku habiskan bersama.
Dari masa, dimana aku akhirnya terpapar tentang bagaimana Kurikulum Kristen harus benar-benar didaratkan oleh seorang guru,
dari waktu dimana aku juga punya kesempatan untuk ikut kelas ibu Najela, yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.
Serta kesempatan, dimana berlahan aku berpindah "agama" ke Microsoft. 
Atau cita yang menjadi nyata, outing bersama keluar kota, menepi untuk kembali memaknai apa yang sedang dijalani.
Semua tadi, rasanya begitu luar biasa, singkat tapi begitu berharga.
Terlebih nuansa keluarga yang begitu mengena.
Dan kini, sepertinya aku tak perlu keliling dunia.
Hanya untuk bisa bertemu Albert Einstein, Bunda Theresa, Nelson Mandela, Angela Merkel, Anne Frank, atau sebutlah tokoh-tokoh lainnya yang mengubah dunia.
Jika dalam perjalanan hidupku, aku boleh mengenal secara personal rekan-rekan disini, yang begitu besar dan begitu berpengaruh pelayanannya dalam pendidikan negeri tercinta ini. Sungguh luar biasa, sungguh begitu besar kasih yang terus mengalir ke dalam pribadiku.
Dan benar, aku tak perlu ke Murnmask untuk menikmati aurora, atau pergi ke Cappadocia untuk menikmati senja. Aku hanya perlu mengerti sebenarnya apa yang Tuhan inginkan terjadi di pribadi ini.
Dan jika memang nanti aku harus menjadi lilin, yang habis untuk menerangi sudut kotaku, biarlah itu terjadi. Ijinkan kini, langkah kaki ku memilih jalan yang lain, menapaki mimpi, serta mencari definisi tadi. Bekal yang telah kalian sematkan tersimpan rapat di benak hati, terbungkus rapi dalam sanubari.
Terimakasih telah menjadi inspirasi dan juga motivasi selama ini.
Dan nanti, ketika sejenak kita menengok tentang hari ini,
Bersukacitalah, karena kita masih di bawah payung yang sama,
kita masih dibawah cinta yang sama.
Indonesia.

Tuesday, February 23, 2021

Kata-kata dan Dunia dibelakangnya

Seseorang bertanya, apa isi kotak dipojok meja sana,
ku tak balas dan hanya tersenyum tipis kepadanya.
Seseorang menyapa, bolehkah aku intip apa isi
kotak dipojok meja itu?
Tetap, ku memilih berdiam tanpa jawab.
Seseorang meminta, bolehkan aku tunggu nanti kau membuka kotak dipojok meja?
Aku hanya tersenyum dan tak tahu sampai kapan ia mau menunggu.

Ini bukan kotak pandora,
Bukan seperti kota Havana di Kuba
Ini bukan kotak musik
Bukan seperti kota Paris di Eropa Barat.
Ini hanya kotak dengan kata-kata didalamnya.
Ini hanya kotak dengan jutaan mimpi yang mewarnainya.

Kehidupan layaknya labirin dan pilihan-pilihan kita dalam mengambilnya.
Ada saatnya pilihan kita bukan mengantarkan pada pintu keluarnya,
tapi membuat kita harus kembali pada titik awal lagi
Kehidupan ibarat insan di bawah kolong langit bumi ini.
Menyambut matahari di pagi, lalu mengantarnya kembali di sore nanti.

Sesaat ketika bulan yang berjaga,
aku menatap kotak tadi,
kotak kata-kata, kotak yang aku sendiri belum pernah membukanya.
Hanya rajin memasukkan kata demi kata,
Tetap memasukkan mimpi kedalamnya.

Kotaknya, terlihat rapi, meski dengan ribuan kata yang berserakkan didalamnya.
Kata-kata yang bisa jadi tanpa arti,
Kata-kata yang bisa jadi penuh dengan mimpi.

Dan saat nanti aku mengambil kunci kotak itu.
Membuka pandora, dan musik yang melantun pelan.
Berdiskusi, bercerita, berdansa, dan berpadu bersama.
Dan aku yang akan balik bertanya,
Masihkah ada yang peduli dengan isi didalamnya?

Saturday, March 24, 2018

Bumi

Sedang ramai sepertinya orang-orang menuju  ke Murmansk
mencicipi sensasi aurora ala perang dunia kedua.
Mungkin juga mereka berebut menuju ke Paris,
berpesta pora menikmati kota penuh romansa.
Atau bisa jadi justru memilih bersantai di Brussel, sembari menikmati segelas cokelat panas.

Aku terdiam, menatap matahari yang sedang berlahan kembali ke peristirahatan.
Mengamati merpati yang begitu bergembira terbang mengantar senja.
Menatap langit yang berlahan berubah warna, menorehkan gradasi tentang cinta, logika dan realita.
Bermain kerikil, mengambilnya, melemparnya jauh ke danau, sekumpulan genangan air di pinggiran himpitan pegunungan baja dan kaca.

Tak banyak yang mampu aku lakukan, berbeda dengan yang aku pikirkan.
Berkecamuk dalam dan liar, tentang apa itu harapan yang sering paradoks dengan perjuangan.

Tak banyak yang mampu aku katakan, berbeda dengan yang aku tuliskan.
Terlalu frontal, terlalu retorik, dan kadang juga munafik.

Aku tak butuh Murmansk, tak juga Paris, apalagi Brussel,
tidak perlu sensasi, tak perlu romansa dan juga tak perlu sebuah kenikmatan belaka.
Aku memilih untuk berani saat ini,
memilih untuk tak kabur dengan sebuah gradasi,
memilih untuk tidak ragu dengan himpitan keadaan.

Sinar rembulan yang berlahan datang, menyapa pelan dalam gelap raguku,
berusaha menumbuhkan rasa yang tak sadar aku membuatnya mati.
Memberi harapan dalam keputus-asaan.
Meski akhirnya aku dipaksa untuk mengerti,
Jika suatu saat nanti, selama matahari masih menyinari
bumi akan terus berevolusi.


Thursday, February 15, 2018

Irama Kini atau Nanti

Tak ada hal yang lebih memilukan dibanding garam yang tak lagi asin. Tak ada kisah yang lebih menyedihkan dibanding daun yang tergeletak lemas tak berdaya tersapu angin dari sang dahan. Tak ada yang lebih membingungkan untuk melihat 2 sisi mata koin secara waktu yang bersamaan.

Orang bertanya-tanya tentang tujuan tentang masa depan. Orang sibuk saling mengejar kenyamanan nanti dan mengorbankan saat ini. Orang menjual diri untuk pengakuan, untuk pernyataan awal bukan sebuah kesimpulan. Orang akan susah makan jika tak menjadi serupa atau setidaknya tidak berbeda. Lalu kemunafikan menjadi hal yang biasa, seolah sudah menjadi sebuah irama, merasionalkan untuk menerimanya saja.

Rasio kehidupan seolah sedang disempitkan dan disederhanakan dalam sebuah panggung hiburan. Dimana esensi tak menjadi apa, asal sensasi berkesan untuk semesta. Pengertian tak menjadi hal yang utama, selama semua bisa menarik emosi, entah tentang tangis, atau tawa. Atau hal-hal akan jauh lebih menarik jika bukan bicara tentang visi atau prestasi, justru sekedar tentang citra atau retorika.

Angin akan selalu mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Lalu air akan terus mencoba menuju peristirahatannya. Dunia juga akan terus berputar, tergantung daun akan tergerus derasnya perubahan atau memilih memilih menjadi racun untuk dirinya sendiri.

Sunday, April 2, 2017

Tujuan

Lalu kami memilih bertanya, sebenarnya untuk apa kami dilahirkan? Atau setidaknya untuk apa kami menjalani kehidupan ini semua? Semata karena uang, atau sekedar tawa dalam balutan puing2 berlian? Jika benar bahwa langkah ini tak bertuan maupun tidak menuju muara kekekalan, lalu untuk apa lagi kaki ini tetap bergerak berjuang melawan tantangan yang sering berhasil mencuri tawa maupun senyuman.

Atau sering juga kami memilih bertanya nakal, kenapa kami tak di lahirkan disini atau disana saja, menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi? Nyatanya ini sering melemahkan, bukan sebaliknya. Memang benar jalan ini tak kunjung bersahabat untuk petualang hebat sekalipun. 

Jika demikan benarkah nanti atau mati adalah hal yang lebih baik lagi? Atau kemarin dan saat ini, itu suatu tragedi yang kelak kan berujung hanya sebagai sebuah memori?

Kami masih mencari mimpi atau kami masih mengelak darinya. Kami masih belum mau pergi karena mungkin kami tak tahu dimana sedang berada. Mungkin saja peta mampu menjawab tanda tanya ini, tapi kamipun sering menghiraukannya.

Lalu sedikit kami boleh mengerti, bahwa bicara soal tujuan bukan semata tentang masa depan, tapi memahami tempat dimana kami sedang memandang.

Monday, March 13, 2017

Dota 2

Hei,
Kamu yang telah mencuri malamku,
Kamu yang telah menyita waktu tidurku,
Kamu yang mampu mendengar kata-kata dari jembatan mimpiku,
Harus aku apakan sebenarnya dirimu?

Kau bukan narkobaku, kau juga tak mampu membuatku merasa candu,
Lalu kenapa kau tetap mampu masuk dalam labirin rumit hidupku?
Menerobos batasan yang menjadi penghalang?
Mencoba membantuku, melupakan hari-hari berat yang telah berlalu.

Ini tak nyata, ini hanya sekedar ilusi,
Tapi malamku, selalu tersapa, oleh hadir dan celotehanmu.
Biarkan waktu yang akan menuntun,
haruskah aku terus menunggu,
atau memperjuangkanmu?

Sunday, January 29, 2017

Selamat Datang Januari

Selamat Januari,
Selamat Natal dan Tahun Baru jika ini belum terlambat :)
Memang sudah 2 hampir dua bulan ini tanganku enggan menekan deretan tombol keyboard, entah karena rasa malasku, atau adu logika kepalaku, membentur dan tak teratur.

The Sleeper pernah menulis sebuah tulisan, dengan judul, Juventus menang, Juventus menghilang. Lucu mengenang dan membacanya lagi, menguliti hal-hal yang pernah menjadi rasa beberapa tahun yang lalu dan kini kutemukan bijinya, ketika kulit dan buah, telah tersayat oleh pisau yang digunakan untuk membukanya. Apaan sih, kok jadi ngga jelas gini tulisannya? Sudahlah, sini akan kuceritakan sebuah kisah, kisah yang pernah kubaca dibuku-buku, atau yang pernah kusaksikan di layar lebar, namun tak pernah kurasakan dan kujalani.

Namanya Farhan, dia seorang petualang, tapi lakunya cukup sopan untuk model orang dengan kegiatan dan hobinya. Sore itu dia pulang, dari hari-harinya yang melelahkan. Diletakkan dokumennya sembarangan, lalu duduk termenung, mengamati gerak kesukaannya, salah satu aktivitas kegemarannya. Memperhatikan seekor ikan mas koki yang sedang berliuk-liuk, berenang kesana kemari, mencoba mengarungi dan dan menguasai besar aquarium yang tak lebih dari 0,5 meter kubik. Indah, itu hal yang dia dapatkan, tentang semangat seorang diri, yang terkurung kotak persegi, namun tak pernah letih untuk berlari. Entah apa yang dia sedang cari, dunia luar yang tak dia kenal, atau rasa syukur tentang ruang yang masih dimilikinya.

Thursday, June 23, 2016

Anak Kota itu Pecahkan Gelasku

Farhan, ya panggillah aku Farhan
Bocah pinggiran yang tak tahu apa-apa
yang hidup dari tiupan angan
tertangkap oleh senja, maupun petang.
Sesekali aku perlu mengusap ingusku,
mengalir deras bak terpaan masalah
dalam hidup ini,
tak mampu berhenti mengalir.

Lalu keajaiban datang,
Sang Ayah memberiku sebuah gelas yang begitu menawan
cantik aku memandangnya.
Tapi siapalah aku, bocah yang tak tahu apa-apa
yang hanya tahu bagaimana bermandi lumpur,
yang hanya mampu bermain gundu
Begitu aku ingin menjaga gelas itu,
kadang tak sadar aku menyembunyikannya dalam tumpukan jerami,
biar tak ada orang mampu mencurinya,
tapi kepolosanku itulah yang kadang membuat goresan
goresan dalam keindahan gelas itu, maafkan.
Atau kadang aku mengusapnya dengan kekawatiran
bahwa gelas itu akan kotor jika tak aku bersihkan,
sayang, aku sering mengusap dengan tangan kasarku,
yang lagi-lagi justru melukai kilauan gelas itu, maafkan.
Lalu kembalilah, siapa aku Farhan,
sebatang bocah ingusan.

Dan anak kota itu, datang dengan sebuah penawaran.
Tentu sangat menjanjikan,
lemari kaca, pembersih berbahan lembut, pengkilap,
dan jutaan lainnya,
yang membuatku hanya mampu teringat pada ingusku,
lalu mengusapnya lagi.

Sebagai si kecil Farhan aku menyadari,
sayang yang aku miliki kepada gelas itu
lebih dari apa yang aku miliki.
Lalu dalam diamku, aku memperhatikannya.
Tak lupa aku juga menyelipkan dalam doaku
aku yang semestinya baik-baik saja,
meski aku tahu hidupku tak lagi sempurna.

Ayah kembali, dan dia membawakanku kotak mungil nan indah
aku bertanya, 'apa ini isinya?'
'buka saja' balasnya pelan.
Tak mampu aku menanahan deras air mata,
yang menghujam pipi begitu deras.
Hingga tak lagi aku merasakan ingusku,
karena semua telah bercampur menjadi satu.
Gelas yang dulu aku sayangi dan aku jagai,
kini pulang tersisa keping-kepingan.
"ada apa ini?" teriakku bertanya
"apa yang dia perbuat? bukanlah anak kota itu merawatnya?"

Hening, itu yang mampu menggambarkan aku saat itu, Farhan

Aku mengumpulkannya, mencoba merangkainya, dan aku tersadar,
sebesar apapun usahaku, gelas ini tak akan mampu menjadi sama,
sama saat pertama Ayah memberikannya kepadaku.
Lalu Ayah berkata, "mampukah kamu kembali menjaganya?"
senyum berat menjadi jawabanku saat itu.
dengan rasa yang seutuhnya sama, namun dengan rupa yang berbeda
itulah yang Ayah mau
lalu kupeluk Ayah, dan tak tahu harus berbuat apa lagi.

Sempat terdengar lirih, gumamku,
Anak kota itu pecahkan gelasku.

Tuesday, May 10, 2016

Tanda Tanya [2.05]

Untuk apa manusia itu hidup?
Untuk mati atau untuk hidup itu sendiri?
Lalu kenapa tak kau biarkan saja,
dirimu membeku, lalu kaku
di sudut kamarmu?
Membiarkan gelap serta keputus-asaan
menguasaimu, lalu mati?
Karena toh memang tubuh ini akan kembali
menjadi debu...

Matahari ada untuk kehangatan
Pelita hadir untuk sebuah pengharapan,
Sinar purnama ada untuk sebuah tuntunan,
namun kenapa kehadiranmu ada justru untuk
sebuah pertanyaan?
pertanyaan dalam sebuah wujud tanda tanya.
Tanda tanya yang mampu mengeringkan
sendu air mata lalu mengubahnya menjadi
satu luka terbuka.

Semakin melangkah demi satu arti
dari tanda tanya itu,
tak membuatku semakin mengerti
atau mungkin jawaban dari tanda tanya itu
memang tidak selau pada titik,
tapi bisa juga pada sebuah koma.

Karena ini adalah sebuah irama,
maka siapa yang berhak membuat akhir kata?
tentunya sang Pencipta, sang Alfa dan Omega.

Friday, September 19, 2014

"Not With Me"

Pejamkanlah matamu, lalu sebutkan sepuluh nama orang yang paling kau cintai dalam hidupmu.

Ketika kau menyebut nama pertama, lihatlah dia tersenyum di kepalamu. Ketika kau menyebut nama kedua, peluknya menghangatkan hatimu. Lalu nama ketiga, keempat, ketujuh, dan seterusnya. Percayalah padaku, ketika kau sampai pada nama kesepuluh, kau akan tahu betapa beruntungnya dirimu.

I'm walking up from my summers dreams again
try to thinking if you're alright
then I'm shattered by the shadows of your eyes
knowing you're still here by my side

Lalu bukalah matamu, pelan-pelan seperti denting piano dalam lagu Not With Me. Sepuluh nama itu, merekalah yang selama ini mewarnai hidupmu, setia bagai cinta yang bergetar dalam hatimu.

Bolehkah menyebutkan lebih dari sepuluh nama? Tentu saja, sebutlah! Sepuluh hanyalah tanda. Jika kau punya lebih banyak nama, berpestalah dengan mereka! Nyalakanlah gemerlap lampu pesta dikelopak matamu, rayakanlah hidupmu sendiri! Setidaknya hari ini, saat kau memejamkan mata dan pelan-pelan tersenyum menyaksikan senyum mereka satu persatu bagai slide yang bergantian muncul di kepalamu. Lalu kenangkanlah, betapa luas karunia yang telah diberikan hidup kepadamu. Kau tak pernah meminta, hidup memberimu lebih.

I can see you if you're not with me
I can say to my self if you're OKAY
I can feel you if you're not with me
I can reach you my self, you show me the way

Barangkali mereka memang tak benar-benar berada di sisimu. Tetapi kenangkanlah selalu, merekalah yang setia mendukungmu. Saat kau terjatuh, merekalah orang-orang pertama yang mengulurkan tangannya untuk membantumu bangkit. Saat kau tersesat dan butuh tempat untuk pulang, merekalah yang selalu bersedia bagai rumah dengan pintu yang terbuka. Barangkali kau bisa menyia-nyiakan hidupmu, tetapi tegakah kau mengecewakan mereka yang berharap banyak padamu, mengkhianati cinta mereka kepadamu.

Barangkali saat ini amarah sedang menguasaimu.  Ledakanlah! Barangkali kau tengah diliputi kesedihan yang melilit. Menangislah! Tapi setelah itu, ikutilah aku. Pejamkan matamu, lalu sebutkan sepuluh nama yang paling kau cintai dalam hidupmu!

life was never be so easy as it seems
'till you come and bring your love inside
no matter space and distance make it look so far
still I know you're still here by my side

Kapanpun, hidup memang tak pernah mudah untuk di jalani. Cintalah yang menjadikannya mudah, membuatnya jadi indah. Maka, satu-satunya cara untuk melepaskan beban seberat apapun yang menghimpit hidupmu, pejamkanlah matamu, sebutkanlah nama-nama mereka yang mencintaimu. Lalu cinta, biarkanlah ia bekerja begitu saja dalam dirimu, bagai senyawa-senyawa yang pelan-pelan menyingkirkan racun kesedihan dan rasa kesepian, mencipta senyum dan kebahagiaan.

yea..you've made me so alive
you give the best for me..love and fantasy
yeah..and i never feel so lonely
coz you're always here with me..
always here with me

Pejamkanlah matamu. Sebutlah sepuluh nama orang yang paling kau cintai di dunia ini. Lalu percayalah padaku, tak ada yang sanggup menghalangi cinta untuk menyalakan kembali cahaya hidupmu. Berhentilah bersedih, berhentilah kecewa, berhentilah merasa bodoh dan tak beruntung, nyanyikanlah hidupmu dengan musik yang kau cipatakan sendiri. Sebab jika hidup berupa musik, hidupmu dengan serangkaian partitur yang tidak bisa dinyanyikan siapapun selain dirimu sendiri.

I can see you if you're not with me
I can say to my self if you're OKAY
I can feel you if you're not with me
I can reach you my self, you show me the way

Pejamkanlah matamu. Sebutlah sepuluh nama. Rasakanlah sesuatu bekerja di hatimu berbagai reaksi kimia yang mendesir gamang mengaliri jalan-jalan darah ke seluruh tubuhmu. Bila sampai pada syaraf bagian bibirmu, melengkungkan senyum tulus yang menghangatkan hatimu, akan ku katakan kepadamu, “Selamat kau berkenalan  dengan rasa syukur."

Karya: Fahd Djibran dan Bondan and Fade 2 Black dalam Hidup Berawal Dari Mimpi

Friday, September 13, 2013

Langkah pencari Terang


Langkahku tak pasti,
Langkahku terjengkal lagi,
Tak ada mentari tidak juga sang pelangi
Apalah arti perjalanan,
Jika hanya begini,
Tak tahu arah, tak tahu harus melangkah
Rongga menganga, meminta mangsa
Menari, memaki, menari, dan memaki
lagi,,,

Asa bertemu dengan derita,
Terang tak kunjung datang
Hanya mencari dan tak pernah kujumpai
Terang yang telah lama aku nanti,
demi mengisi kekosongan gumpalan merah,
tubuh nestapa ini..

Aku hanya dapat mendengarnya,
Ya,,, hanya dari ucap,
Entah kosong entah hanya bualan
Yang pada akhirnya Terang itu tak ada
Tak ada juga dalam perjalananku ini…

Melangkah, mencariNya lagi
Pijakan ini berbicara,
Terang itu datang dari langit,
Menerangi, dan melindungi
Tapi mana????

Apa hanya mereka, ya mereka yang dapat merasakannya?
Aku juga ingin menikmati hasil dari perjalanan,
Perjalanan penuh kekosongan ini.
Pijakan ini berbicara,

Terang tidak menampakkan dirinya, pergi untuk melawan kegelapan,
Tapi mana?? aku tetap saja,
Tetap gelap dan tak dapat beranjak..
Pijakan ini berkata,

Terang itu bersinar,
Bersinar terang, sangat terang,
Menciptakan dunia tanpa kegelapan..
Tapi mana???
Aku ya aku, melangkah tak pasti, dan tidak merasakanNya..
lagi
Pijakan ini mengucapkan,

Bahwa terang itu kembali ketahtaNya
menyinari tiap langkahku,
Menerangi tiap keindahanku,
Dan lagi-lagi aku tidak merasakanNya,
Pijakan ini berucap,

Terang yang engkau cari,
Terang yang engkau ingini,
Tidaklah akan terlihat oleh sepasang mata penuh kegelapan.
Pijakan ini akhirnya menuturkan kata,

“cahaya terang ini hanya dapat dirasakan,
dirasakan ketika engkau menutup mata,
Menutup setiap ego
Merasakan tiap kehangatan,
Dari terang yang telah hadir dan mengalahkan, kegelapan.”

By: Hizkia Sasangka Jati

Friday, July 12, 2013

FreeDom


Berlarilah, menuju puncak tujuan
Menepilah, istirahatlah, bernafaslah.
Raihlah ribuan bintang yang tergantung itu,
Belahkah sang bayu yang sedang menghalangimu

Kebebasan bukan tentang keputusan
Kebebasan bukan tentang pandangan
Kebebasan bukan tentang pelepasan,
Kebebasan adalah perasaan tanpa kekangan,

Biarlah hidup ini jauh lebih berarti,
meraih janji yang pernah diungkiri.
Biarlah langkah ini menghantarkan,
pada tujuan kebahagiaan.

Terkadang kutengok kebelakang,
melihat sosok penuh harapan.
Sekarang aku tersadar,
ternyata semua itu hanya kekangan.
Tidak ada kebebasan
Tidak ada pengampunan.

Sekarang aku mengerti,
mengapa aku harus berdiri setinggi ini.
Ketinggian mengantarkan pada sebuah pandangan
Pada sebuah kesadaran, bahwa
tidak ada yang perlu ditunggu lagi.
Semua telah hilang,
tertelan hilang oleh sapuan malam.

Terlihat jelas dimataku,
warna-warna indah itu.
Aku akan melangkah untuk mencapainya,
akan kuambil salah satu warna itu,
untuk mewarnai hidup yang telah menghitam
tenggelam dalam kekangan.
Karena kebebasan, bukan sekedar impian,
tapi jauh lebih dalam dari perasaan.

Thursday, September 13, 2012

sesobek sampah

cahaya redup menerangi gelap hati senja itu
dering kendaraan bermotor bak seruling mengiringi
lemparan tatap menandai kegelisahan
mulai merasuk hingga rongga paling dalam

mulut terbungkam cukup lama
hati bergejolak tak berani artikan kata
"apakah aku bisa?"
pertanyaan konyol yang mulai merasuki kalbu

jeritan jiwa merayakan terbongkarnya kata
keluar berlahan melalui celah
hanya harapan tentang masa depan
hanya harapan tentang indah kehidupan

semua resah, semua gelisah
kini terlontar, berlahan namun meresap
menyelinap masuk dan tak tau apa yang diperbuat
membenamkan mata dalam kegelapan senja saat itu
merasuki raga dengan emosi yang tak terelakkan

tangan kotor dan dekil, merangkai kata
kata yang tak mungkin ia mampu ucapkan
kata yang tak mungkin ia ungkapkan
semua itu hanya ilusi, hanya ada di alam mimpi
namun sesobek sampah dekil menjawab
menjawab semua rasa, yang telah terabaikan,
yang telah tertolakkan, hingga kini,
menjadi simpanan, dewi putri jauh di nirwana...