Wednesday, July 28, 2021

Berani Bermimpi

Sering kita bertanya-tanya, tentang bagaimana keindahan Aurora di Murnmask ala perang dunia kedua.
Kadang kita juga berandai-andai, tentang bagaimana hangat senja dengan balon udara di Cappadocia.
Tapi apakah benar hanya Angels Fall di Venezuela yang punya keindahan tentang ketinggian?
Atau, hanya Borobudur yang tersembunyi di perbukitan Magelang, yang bisa mendefinisikan tentang kemegahan?

Aku kira kita semua sering bertanya-tanya, dari definisi-definisi kehidupan yang kita jalani.
Lalu, sudahkah kita menemukan pengertian yang sejati, dan juga Ilahi?
Atau hanya sibuk dengan rangkaian kata, rasa, serta cita yang tak lain hanya berpusat pada diri kita?
Dan sekarang, saat pena Sarasaku hendak menuliskan rangkaian mimpi di bulan Januari,
tanganku terhenti, memintaku melihat kembali, sembari berlahan membuka lembaran-lembaran yang telah terisi.

Yang tak kusadari sudah hampir 19 bulan aku habiskan bersama.
Dari masa, dimana aku akhirnya terpapar tentang bagaimana Kurikulum Kristen harus benar-benar didaratkan oleh seorang guru,
dari waktu dimana aku juga punya kesempatan untuk ikut kelas ibu Najela, yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.
Serta kesempatan, dimana berlahan aku berpindah "agama" ke Microsoft. 
Atau cita yang menjadi nyata, outing bersama keluar kota, menepi untuk kembali memaknai apa yang sedang dijalani.
Semua tadi, rasanya begitu luar biasa, singkat tapi begitu berharga.
Terlebih nuansa keluarga yang begitu mengena.
Dan kini, sepertinya aku tak perlu keliling dunia.
Hanya untuk bisa bertemu Albert Einstein, Bunda Theresa, Nelson Mandela, Angela Merkel, Anne Frank, atau sebutlah tokoh-tokoh lainnya yang mengubah dunia.
Jika dalam perjalanan hidupku, aku boleh mengenal secara personal rekan-rekan disini, yang begitu besar dan begitu berpengaruh pelayanannya dalam pendidikan negeri tercinta ini. Sungguh luar biasa, sungguh begitu besar kasih yang terus mengalir ke dalam pribadiku.
Dan benar, aku tak perlu ke Murnmask untuk menikmati aurora, atau pergi ke Cappadocia untuk menikmati senja. Aku hanya perlu mengerti sebenarnya apa yang Tuhan inginkan terjadi di pribadi ini.
Dan jika memang nanti aku harus menjadi lilin, yang habis untuk menerangi sudut kotaku, biarlah itu terjadi. Ijinkan kini, langkah kaki ku memilih jalan yang lain, menapaki mimpi, serta mencari definisi tadi. Bekal yang telah kalian sematkan tersimpan rapat di benak hati, terbungkus rapi dalam sanubari.
Terimakasih telah menjadi inspirasi dan juga motivasi selama ini.
Dan nanti, ketika sejenak kita menengok tentang hari ini,
Bersukacitalah, karena kita masih di bawah payung yang sama,
kita masih dibawah cinta yang sama.
Indonesia.

Tuesday, February 23, 2021

Kata-kata dan Dunia dibelakangnya

Seseorang bertanya, apa isi kotak dipojok meja sana,
ku tak balas dan hanya tersenyum tipis kepadanya.
Seseorang menyapa, bolehkah aku intip apa isi
kotak dipojok meja itu?
Tetap, ku memilih berdiam tanpa jawab.
Seseorang meminta, bolehkan aku tunggu nanti kau membuka kotak dipojok meja?
Aku hanya tersenyum dan tak tahu sampai kapan ia mau menunggu.

Ini bukan kotak pandora,
Bukan seperti kota Havana di Kuba
Ini bukan kotak musik
Bukan seperti kota Paris di Eropa Barat.
Ini hanya kotak dengan kata-kata didalamnya.
Ini hanya kotak dengan jutaan mimpi yang mewarnainya.

Kehidupan layaknya labirin dan pilihan-pilihan kita dalam mengambilnya.
Ada saatnya pilihan kita bukan mengantarkan pada pintu keluarnya,
tapi membuat kita harus kembali pada titik awal lagi
Kehidupan ibarat insan di bawah kolong langit bumi ini.
Menyambut matahari di pagi, lalu mengantarnya kembali di sore nanti.

Sesaat ketika bulan yang berjaga,
aku menatap kotak tadi,
kotak kata-kata, kotak yang aku sendiri belum pernah membukanya.
Hanya rajin memasukkan kata demi kata,
Tetap memasukkan mimpi kedalamnya.

Kotaknya, terlihat rapi, meski dengan ribuan kata yang berserakkan didalamnya.
Kata-kata yang bisa jadi tanpa arti,
Kata-kata yang bisa jadi penuh dengan mimpi.

Dan saat nanti aku mengambil kunci kotak itu.
Membuka pandora, dan musik yang melantun pelan.
Berdiskusi, bercerita, berdansa, dan berpadu bersama.
Dan aku yang akan balik bertanya,
Masihkah ada yang peduli dengan isi didalamnya?

Thursday, August 6, 2020

Sepatu Pendidikan

Pendidikan moral? Tentunya sudah sangat familiar di telinga, ketika kata tersebut berdengung. Dewasa ini dunia memang sedang menyorot tajam mengenai hal tersebut, pada khususnya di Indonesia. Bukan tanpa alasan, namun Indonesia memang dinilai lalai dalam memperhatikan pentingnya unsur pendidikan moral di dalam kurikulum yang diselenggarakan. Pendidikan moral memang merupakan salah satu aspek yang penting di dalam dunia pendidikan, meski demikian aspek kognitif seharusnya tidak begitu saja dapat dikesampingkan.

Dalam teorinya, Kohlberg mengatakan bahwa kunci dasar dari sebuah perkembangan moral di dalam pendidikan adalah internalisasi. Maksudnya adalah bahwa perilaku seseorang yang pada sebelumnya dikontrol secara eksternal berubah menjadi dikontrol secara prinsip-prinsip yang telah dipegang oleh pribadi diri sendiri. Keberhasilan dari pendidikan moral dapat terlihat ketika motif serta perilaku moral seseorang sudah menjadi sebuah kesadaran tanpa adanya paksaan. Namun kembali lagi nilai-nilai kebenaran yang tertanam di dalam setiap pribadi haruslah nilai-nilai kebenaran yang benar-benar benar.

Perkembangan moral seseorang tidak serta merta mampu ke tahap internalisasai seperti di atas tanpa adanya pendidikan kognitif. Perkembangan moral seseorang juga merupakan salah satu konsekuensi logis dari berkembangnya kognitif dari seseorang. Pendidikan kognitif memang menitik beratkan pada kemampuan seseorang untuk mampu berpikir secara abstrak. Dengan demikian tingkat logika dari seseorang akan semakin meningkat. Hal tersebut akan menyeret seseorang menjadi pribadi ke arah transaksional, sehingga pertimbangan dalam pengambilan keputusan adalah keuntungan pribadi.

Layaknya seperti sepasang sepatu, pendidikan moral serta pendidikan kognitif merupakan dua aspek di dalam pendidikan yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut justru seharusnya berjalan berdampingan, kematangan moral seseorang tidak mungkin dicapai tanpa kematangan kognitif seseorang, sebaliknya seseorang akan menjadi pribadi yang mengerikan ketika ia matang secara kognitif namun tidak disertai dengan kematangan moralnya. Oleh karena itu kedua hal tersebut merupakan hal yang sama-sama penting. Kembali lagi bahwa salah satu hal yang penting di dalam dunia pendidikan adalah pendidikan yang holistik, tanpa mengesampingkan salah satu aspek untuk mementingkan aspek lainnya.

Thursday, October 10, 2019

Ketidakmungkinan

Jurnal selalu punya peran, ia bagai bumi, yang menyimpan misteri dan history dengan begitu rapi. Catatan dan goresan kata menggambarkan bagaimana posisi hati. Tapi ada kalanya kertas kosong bukan tanpa arti, bisa jadi ketika hati sedang tak mampu diberikan definisi. Kisahnya unik, tak seperti semesta yang begitu mesra, tak seperti mentari senja yang begitu hangat.

Sedari awal semuanya sudah jelas, tak mungkin daun akan bertahan. Awal perjalanan sudah begitu gamblang, angin tak selamanya bertiup kencang. Definisi ketidakmungkinan sebenarnya menjadi satu hal yang sederhana, tapi memang, menerima hal yang berbeda tentu tak semudah menjentikan jari semata.

Biarlah kini hujan berlahan turun, memandikan bumi yang sudah begitu kering. Membasahi tanah yang sudah begitu gersang. Biarlah hujan menjadi penutup, membuyarkan setiap tetesan air mata menjadi sebuah pesta dansa. Biarlah hujan menjadi penuntun, pada satu masa dimana dunia akan terus bergerak sebagaimana semestinya.

Mental

Dunia sedang merayakan hari kesehatan mental. Tapi sebenarnya seberapa dari kita yang peduli dengan hal ini? Bukankah kita mendukung teman-teman kita yang sedang sakit fisik, entah itu hanya dalam sebuah doa? Tapi seberapa banyak dari kita yang sadar, bahwa tak adanya bedanya dengan sakit secara mental itu sendiri. Pengetahuan masa laluku jujur dengan mudah mengotakkan, bahwa sakit mental adalah aneh. Orang yang tak perlu konfirmasi, cenderung akan dihindari.

Tapi seberapa banyak dari kita yang peduli? Bahwa emosi juga mengandung energi, dan bayangkan jika hal tersebut terkikis tanpa kita paham bagaimana mengisinya? Atau ketika sedang berusaha mengisi, akan pendapatkan penghakiman karena itu tak masuk diakal.

Kita mudah mengotak-kotakkan, kita mudah membeda-bedakan, seseorang dengan sakit mental bisa banyak penyebabnya. Bisa bicara tentang genetika, atau bisa jadi karena lingkungan yang membentuknya. Dimanakah posisi berdiri kita? Melihat itu sebagai sebuah bahan candaan? atau turut mendukung proses penyembuhannya?

Thursday, March 28, 2019

Kenyataan dalam Kesemuan

Bagaimana jika semua yang kita rasakan hanyalah semu? Menjadi abu dalam hitungan detik tersapu kenyataan dan kebenaran.

Aku berjalan pelan, menyaksikan langit yang mulai berubah kemerahan. Mendengarkan deru ombak yang kian syahdu melantun pelan. Ku bersihkan seadanya sebatang pohon yang tergeletak terasingkan dihamparan pasir yang begitu luas. Duduk diatasnya, diam melihat bintang yang samar-samar mulai bermunculan.

Terasa sangat tenang, atau mungkin lebih tepat terlihat sangat tenang, tak seperti kepala yang sedang berpacu begitu kencang. Tak sedikitpun ketenangan tadi benar-benar ada dalam kepala. Dunia yang sama tapi menjadi begitu berbeda, menjadi begitu bertolakan. Satu bicara tentang tunggu, satunya berkata, ayo cepat, berlarilah. Satu berbica tentang sudahlah, lalu satunya bersuara belum saatnya. Sayup-sayup berkata, kamu ini siapa, satu membisik, kamu itu bisa.

Aku mulai dibingungkan dengan mana yang aku rasa, atau yang aku damba. Sepertinya saat ini, lebih menguat untuk berkata, aku tak suka, dan aku perlu berani menghidupinya, sepertinya.

Seketika, sapaan 'hei, ayo pulang' membuyarkan semuanya, menghitamkan semua tadi yang masih berwarna abu. Aku perlu tahu bahwa ini semua bukan mimpi, bahwa semua yang aku alami bukan sebuah ilusi, tapi adalah hidup yang penuh dengan konsekuensi. Menjadi bervisi, atau hidup sebagai pemimpi.

Wednesday, March 6, 2019

"A Beautiful Dilemma"

Dalam setiap keseruan menjalani kehidupan, manusia selalu diperhadapkan dengan yang namanya pilihan. Hal tersebut menjadi konsekuensi logis dari kesempatan-kesempatan yang Tuhan anugerahkan. Cenderungnya atau lumrahnya, sebagai seorang manusia, pertimbangan terbesar dalam memilih pilihan adalah 'aku' yang menjadi alasan terkuat dibelakangnya.

Beberapa hari yang lalu aku membaca dua post terbaru dari salah satu artist kesukaanku, siapa lagi kalau bukan Maudy Ayunda. Ia baru saja mendapatkan kabar bahwa ia diterima di dua universitas ternama di dunia, yang bahkan mayoritas manusia membayangkan untuk berkuliah disana saja sepertinya tak mampu. Dalam kebingungan yang ia tuliskan sebagai 'a beautiful dilemma' terdapat hal-hal yang perlu kita pelajari dan mungkin pahami. Pertama adalah bahwa mimpi adalah hal yang lucu, yang perlu terus kita ingat-ingat dan mengusahakannya. Lalu kedua, mimpi itu harus besar, tapi pecah menjadi langkah-langkah kecil yang tentu akan menjadi sebuah perencanaan yang mampu untuk dicapai.

Bayangkan saja mendapatkan dua pilihan yang sangat besar dan sangat berdampak untuk kedepannya. Tentu seharusnya memang menjadi hal yang 'menyenangkan' atau 'beautiful'. Tapi tak semua pribadi sebenarnya siap dengan yang namanya pilihan. Ingat bahwa pilihan bisa ada juga karena anugerah kesempatan yang telah diberikan. Namun, jika kita boleh merenungkan lebih jauh lagi, apakah kita sudah mempersiapkan diri kita untuk membuat satu pilihan yang benar?

Pilihan selalu memiliki konsekuensi, oleh karenanya memilih yang terbaik tentu menjadi salah satu pertimbangan yang memerlukan hikmat. Untuk mendapatkan hikmat, seseorang perlu mau untuk belajar. Lalu apakah selama ini kita sudah benar-benar belajar? Atau sebenarnya selama ini kita sedang menebalkan ke'aku'an dalam pembelajaran-pembelajaran yang ada. Kembali kepada diri kita masing-masing, seberapa besar kemauan dan kemampuan untuk belajar. Untuk mampu berespon terhadap kesalahan-kesalahan, untuk mampu berespon terhadap kesempatan-kesempatan. Jadi memang salah satu hal penting dalam membuat pilihan yang tepat adalah melihat diri. Bukan sekedar membuat pertanyaan tentang bagaimana aku melakukannya, tapi coba mempertajam siapa aku dan untuk apa aku menjalani hidup kedepannya. 

Dalam merenungkan hal itu tentu kita akan menemukan bahwa salah satu anugerah yang Tuhan berikan sama kepada kita semua adalah waktu. Jadi tentu waktu adalah salah satu modal terpenting dalam membuat prioritas dalam menentukan pilihan. Bukan sekedar mempertimbangkan 'aku' yang tentu bisa saja salah, tapi juga perlu menengok, apakah itu merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan besar dalam kehidupanku?

Lalu jika sedemikian rumit dan sulitnya dalam membuat pilihan, meskipun dalam 'a beautiful dilemma' yang sebenarnya keduanya terasa manis. Kita punya sebuah tanggung jawab untuk bertanya secara langsung kepada Pribadi yang memberikan kesempatan-kesempatan itu, sehingga kelak piliah tersebut adalah pilihan yang tepat terlebih bijak. 

Wednesday, December 12, 2018

Mimpi

Bagi beberapa orang, cahaya itu adalah segalanya, bagi sebagian cahaya justru sangat mengganggunya, meskipun disisi lain ada juga yang tak pernah beruntung merasakannya. Tapi sebenarnya apa itu cahaya. Aku sering kali dapat mendefinisikan cahaya ketika mengkorelasikan dengan api sebagai penyebabnya. Jadi, bagiku memang cahaya dan api adalah dua hal yang bisa jadi saling berkaitan erat. Karena api menjadi salah satu alasan kenapa kita sebagai manusia dapat melihat hasil dari kobarannya, yaitu cahaya. Aku disini memang tidak sedang mencoba menjelaskan dua hal tersebut lebih dalam secara ilmiah. Tapi kenapa aku menyampaikannya, karena hari ini ada sesuatu yang memaksaku untuk berpikir lebih dalam.

The Sleeper memiliki pendapat, bahwa manusia hanya bisa berjalan maju karena sebuah alasan, yaitu harapan. Tanpa adanya harapan, sepertinya kehidupan kita akan begitu-begitu saja. Nah, disini aku membahasakan harapan dengan sesuatu yang mungkin lebih familiar, yaitu mimpi. Tentu sebagai seorang pribadi, kita perlu mimpi untuk memaksa kaki kita tetap melangkah maju. Masalahnya, tidak setiap kita benar-benar peduli dengan potensi besar ini yang ada di dalam diri. Cenderungnya hal ini dianggap terlalu berlebihan atau hanya sekedar angan-angan semata.

Begitupun hari kita, hal-hal yang kita lihat adalah hasil dari apa yang kita perjuangkan. Mimpi itu harusnya menjadi api dalam diri kita, biarkan ia membakar setiap hal yang perlu dimotori dalam kehidupan. Sehingga baik kita maupun orang-orang disekitar kita boleh melihat cahaya yang dihasilkannya.

Pemikiran, dan refleksiku kali ini adalah, banyak dari kita yang justru memilih kalah dengan mimpinya, salah satu api yang bisa menjaga kita terus melangkah maju. Atau ada juga yang menganggap bahwa mimpi hanya sebuah ilusi penuh dengan kesia-siaan, tak akan ada hasilnya. Di sisi lain, ada juga yang mungkin terus sibuk bermimpi, tapi tak pernah berani mengusahakannya, atau bisa jadi sudah memilih kalah dengan resikonya.

Mimpiku? Biar itu tetap menjadi api, semoga membantu kaki ini terus malangkah maju, melawan ragu yang menyelimuti.
Mimpimu? . . .

Thursday, August 16, 2018

Penjajah tak Kasat Mata

Esok adalah hari jadi dari negeri tercinta, Indonesia. The Sleeper tertarik untuk mewarnainya dengan sedikit cerita dari refleksi sebagai seorang pendidik yang ada di bangsa berkembang ini. Akan genap 73 tahun Indonesia merdeka dari jenis penjajahan kasat mata yang telah dilakukan baik oleh bangsa Belanda maupun Jepang. Namun sepertinya yang namanya penjajahan jaman sekarang justru lebih banyak yang tak kasat mata, dimana itu akan jauh lebih mengerikan, dimana kita hidup di dalamnya, tapi tak pernah sadar sedang mengalaminya.

Penjajahan yang dimaksud adalah penjajahan tentang pemahaman maupun tentang pengertian ilmu pengetahuan. Tahun depan salah satu kontestasi besar negeri ini akan digelar, pemilihan presiden baru untuk menentukan nasib negeri setidaknya lima tahun kemudian. Namun hangat dan hiruk pikuk adu pilihan telah mulai tancap gas, seketika setelah nama capres dan cawapres dipublikasikan. Seolah negeri kembali menjadi dua warna, ada yang begitu getol percaya kubu kiri adalah yang terbaik, ada yang begitu yakin kubu kanan adalah titipan dari sang Ilahi. Para pendukung dan relawan bergereliya melalui akun-akun media sosial, mencoba menyampaikan apa yang menjadi pendapatnya. Tak mau kalah para petinggi dan politisi juga ikut serta mengaduk fakta dalam logika yang dimilikinya.

The Sleeper percaya bahwa pilihan pasti akan berbeda, tak mungkin kita dengan latar belakang dan pemahaman yang berbeda-beda akan sepakat begitu saja dengan apa yang sedang disajikan. Tapi inilah yang cukup mengiris pelan hati the sleeper, dimana hal yang ditakutkan adalah bukan sekedar pilihan semata, tapi tujuan dari bentuk dukungan yang diberikan. Apakah benar segalanya dilatarbelakangi rasa cinta dan peduli untuk nasib bangsa kedepannya? Atau sebenarnya justru berisi kepentingan-kepentingan pribadi atau sekelompok saja? Yang ujung-ujungnya bicara soal apa yang dibutuhkannya. 

Menilik, teori kebutuhan yang disampaikan oleh Abraham Maslow, tentang piramida kebutuhan manusia, yang saya takutkan, mereka yang sedang memperjuangkan hal-hal tadi justru hanya bergerak di ranah dasar, tentang kebutuhan fisik, atau sekedar rasa aman semata. Namun mereka lupa bahwa kebutuhan tertinggi manusia sebenarnya adalah tentang bagaimana mampu memaksimalkan talenta yang telah Tuhan titipkan di dalam pribadi kita masing-masing. Sehingga, apa yang sedang kita lakukan selama ini, memang mengarah kepada apa yang menjadi kehendakNya. 

Begitu sedih dan cukup prihatin memperhatikan suasana ini, the sleeper memilih untuk menggelitik para peserta didik, tentang apa yang sebenarnya Tuhan mau dalam kehidupannya, melalui pembelajaran tentang ketenagakerjaan. Banyak yang memiliki pemahaman, bahwa bekerja adalah bentuk kewajiban agar mampu bertahan hidup, memenuhi kebutuhan dengan uang yang mampu dihasilkannya, atau menyampaikan sedikit mulia, hendak menolong sesama manusia, tapi harus menunggu uang menumpuk agar memiliki dampak yang lebih masif lagi. Benarkah demikian? Menengok teori kebutuhan yang tadi telah disampaikan, yang ditakutkan, mereka justru nantinya akan kembali terjerumus kedalam satu jurang pemahaman, bahwa bekerja adalah tujuan menjadi kaya, sebelum mereka mampu mendefinisikan apa itu arti dari kaya. 

Oleh karenanya, keluar dari penjajahan tak kasat mata, merupakan PR besar negeri ini. Bagaimana kita semua sebagai warganya, tentu berpereran penting dalam usaha memberantasnya. Bukankah memang sebenarnya bendera kita juga terdiri dari dua warna, namun kenapa kita selama ini mampu begitu menghargainya? (atau bisa jadi justru biasa saja?) Jadi jika pada nantinya kita tak memiliki agenda-agenda pribadi yang berisi penuh egoisme semata, dan kita sebagai umat manusia mampu mengisi hari-hari kita dengan memenuhi kebutuhan kita yang paling tinggi, yaitu aktualisasi diri, the sleeper punya harapan, perbedaan bukan menjadi ajang memecah belah, namun justru menjadi cerita dan warna, bahwa keunikan bangsa ini terletak pada kesatuannya, bukan pada persamaannya.

Monday, July 2, 2018

Menjadi Pribadi Minor

Sepulang menikmati indah senja disalah satu ujung pulau jawa, kami kembali. Tak menarik the sleeper menceritakan hal itu sekarang, the sleeper tertarik dengan salah satu iklan rokok yang yang terpasang besar dan begitu jelas di salah satu sudut kota Jogja. Kira-kira bunyinya "nanti kau juga akan mengerti bahasaku". Hal ini seolah sedang mengkritisi dan mem-persuasi para pembacanya untuk berekspresi sesuai dengan nurani pribadi. Namun dipikir-pikir bukan tentang salah atau benar iklan tadi. Bicara soal bahasa, memang sesuatu hal yang begitu kompleks, dan tak sesederhana ketika kita mengucapkannya sembarang saja.

Apakah benar the sleeper lebih dikenal sebagai tulisan-tulisan bernada minor, yang memuat tentang kesedihan? Apakah benar mengekspresikan hal-hal minor lebih mudah diterima oleh semesta? Entahlah, namun mungkin ini sistem dunia berkembang. Cerita minor dan nada-nada kesedihan membuat pendengar ikut berimpati. Rasa empati mengandung logika bahwa sang pemilik 'pernah' atau ikut merasakan hal yang sama, hal ini tentunya sedikit memiliki kandungan logika bahwa ia artinya telah sedikit lebih baik dari sang pembuat cerita minor tadi. Ini yang menjadi bahaya, bahwa manusia akan jauh lebih lega ketika sesama ada dibawahnya, bukan setara, apalagi berada diatasnya.

Tentu saja bukan demikian seharusnya roda dunia berputar. Tapi nyatanya masih banyak yang alergi mendengar cerita-cerita bernada bahagia, karena didalamnya memang cenderung mengandung banyak unsur egoisme semata. Lalu bagaimana seharusnya seseorang berekspresi? Ia hanya akan baik ketika ia menjadi orang yang dunia tahu dan kenal tentangnya. Mungkin memang the sleeper perlu untuk banyak belajar bagaimana harus menulis merangkai hal abstract yang dapat dimengerti oleh semesta. Atau malah sebaliknya? Mengikuti egoisme liar yang tak peduli tentang fakta tanggapan dunia?

Saturday, June 30, 2018

Daun Tak Pernah Membenci Angin yang Membawanya Terbang.

Cerita ini telah tersebar luas menjadi seperti cerita turun temurun dari para nenek moyang yang penulis aslinya pun aku tak pernah tahu. Kehidupan tak bisa dipersempit dalam logiga daun, angin maupun pohon. Ketiganya hanya mencoba menggambarkan sesuatu yang begitu besar, yang begitu abstract sehingga orang sulit dalam mendefinisikan dan menceritakannya. Oleh karenanya manusia cenderung mendistorsi makna demi, setidaknya tercapai sedikit maksud yang ingin dibahasakan.

Dunia dan kehidupan berlomba selalu membuat tanda tanya, baik untuk sang daun, yang memilih tinggal atau pergi, buat sang angin yang memilih bertiup atau tenang, atau untuk sang pohon yang diam menua bertahan dari segala terpaan. Setiap tanya menuntut keputusan, dan setiap keputusan menuntut harga yang harus dibayar, konsekuensi. Apapun yang diputuskan oleh siapapun menuntut sebuah konsekuensi yang harus dibayar oleh pihak-pihak yang membuatnya, bahkan terkadang harus dirasakan oleh pihak-pihak yang bersinggungan. 

The sleeper bukan angin, bukan daun, dan bukan pohon, the sleeper ketiganya, the sleeper bukan ketiganya juga pada waktu yang bersamaan. Tak ada analogi yang mampu menggambarkan secara utuh. Jawaban atas tanya selalu berujung pada keputusan, keputusan untuk bahagia atau sebaliknya. Namun the sleeper punya sedikit pesan, bahwa keputusan haruslah bulat hasil dari pemikiran dan kedamaian. Pemikiran mewakili logika, dan kedamaian mewakili perasaan. Sedih dan bahagia hanya bicara soal waktu, dulu dan nanti akan terus menjadi saksi untuk setiap pilihan dan keputusan kehidupan yang terus dan konsisten kita pilih.

Kau adalah pribadi, keluarlah, terbanglah.

Sunday, May 27, 2018

Dunia dibalik Kata-kata

Pernahkah kita membayangkan sebuah dunia tanpa kata? Sebuah komunitas tanpa bicara? Sebuah hidup tanpa makna? Sebuah kenangan tanpa cerita? Sebuah perjalanan tanpa tanya? Ya, sepertinya akan sangat sulit the sleeper memikirkan hal itu. Belakangan justru terngiang bahwa saat ini dunia telah penuh sesak dengan kata. Banyak orang yang meminta unjuk untuk bicara, memaksa sebuah cerita tanpa memprosesnya dengan tanya untuk mendapat sebuah makna.

Semakin rumit dan semakin terlihat abstract seperti paragraf sebelumnya, sepertinya demikian sekarang sistem dunia cenderung bekerja. Orang lebih sibuk memermak hal-hal yang seharusnya tampil apa adanya. Membuat kata sederhana menjadi sesuatu yang begitu mahal dan langka. Bayangkan saja, untuk berbicara kata sedih, mungkin seseorang harus memutar otaknya, mencari frasa-frasa untuk mempolesnya agar dirinya tak dianggap lemah. Atau untuk berbicara tentang bahagia, justru lebih sibuk mencari kalimat-kalimat estetika, agar dirinya tak terlihat sombong.

Lalu bagaimana cara kita bercakap dengan kata yang sederhana beserta makna yang selalu ada didalamnya? Susah. Kita lebih suka membuat dinding kata-kata untuk menutupi apa yang ada dibaliknya. Maaf, mungkin bukan kita, aku hanya merefleksikan diriku dan dunia sekitarku. Jika demikian, jangan sepelekan kata-kata. Kemampuan yang dimilikinya tak pernah terkira. Orang dapat selamat karena kata, atau sebaliknya mungkin juga dia dapat berujung celaka.

Setidaknya aku sekarang ingin belajar bagaimana menggunakan kata-kata dengan apa adanya, bukan merumitkan hal-hal yang sederhana. Karena kata-kata mengalir melalui cerita, diawali tanda tanya, yang berakhir dengan pemahaman sebuah makna. Jadi biarlah dunia itu sama dengan kata, bukan justru bersembunyi dibaliknya.

Saturday, May 5, 2018

Peluklah, Dekaplah lebih Erat, Terimalah

Tak terpikirkan sudah berapa sunrise yang aku lewati dalam kehidupan ini, dan seberapa banyak yang berlalu begitu saja tanpa aku mampu memaknai, maupun menikmati. Bahkan tak perlu bicara sepanjang kehidupan ini, bayangkan saja tahun ini, tahun yang baru berjalan 4 bulan saja, berapa ratio aku mampu menjalani pagi dengan syukur atau setidaknya berusaha menyeruak mencari arti dari hari-hari yang akan aku lalui lagi dan lagi.

Kali ini the sleeper ingin bercerita tentang teman lama yang telah setia menemani perjuangan dan perjalanan selama ini, namanya Black Orchid, iya dia bukan seekor ikan hias, tapi dia selalu juara dalam mendorong setiap usaha yang dulu aku sering perjuangkan. Kenapa aku menggunakan kata dulu, karena sudah 2 tahun belakangan ini ia sakit-sakitan, bahkan matanya pernah tak mampu melihat hampir sekitar 6 bulan. Lalu jantungnya sudah tak lagi mampu memompa darah yang mengandung oksigen ke seluruh penjuru dari tubuh yang membutuhkan. Nafasnya sudah berat, sering tersenggal. Langkahnya sudah gontai, meskipun ia masih terus dan terus setia, berjuang di dalam keterbatasannya mendukungku, memperjuangkanku, tidak membiarkanku mati kutu. Betapa banyak pengorbanan yang telah ia berikan, selama 8 tahun belakangan ini, sudah terlalu banyak hal yang ia saksikan dalam langkah-langkah kehidupan yang aku ambil, baik yang membanggakan, maupun yang mengecewakan.

Dan persahabatan buatku tidak terbatas pada perpisahan, tapi justru akan selamanya, mengingat yang namanya kenangan maupun cerita yang telah terjadi tak mungkin bisa terhapus begitu saja. Meskipun kini aku telah ditemani teman yang baru, panggil saja ia Grey Shark. Namun ini justru tetap akan menjadi ceritaku dengan Black Orchid, terbungkus rapi lalu aku letakkan di sudut hati. Grey Shark memang masih belia, ceria, tak banyak bicara, tapi begitu bekerja, aku yang awalnya tak terlalu banyak berharap, ternganga seketika, mengingat ini juga sebuah anugerah dari Semesta, dimana Ia ijinkan aku tetap bisa didukung kembali oleh teman baru.

Sudah tak ada lagi marah, tak ada lagi kecewa, tak ada lagi bercanda bersama dengan Black Orchid. Tapi aku memilih untuk memeluk kenangan itu erat-erat, bukan karena banyaknya kenangan baik atau buruk didalamnya, tapi justru yang namanya lalu tak mungkin kita sanggup melawannya, cukup peluk, dekap lebih erat dan terima. Ia akan menjadi tanda serta pengingat yang baik dalam mengambil keputusan kedepannya nanti. Selamat datang Grey Shark, aku siap kau melengkapi puzzle dari Black Orchid yang belum usai dalam kehidupanku. Hariku bersamamu masih panjang, please be nice.

Saturday, March 24, 2018

Bumi

Sedang ramai sepertinya orang-orang menuju  ke Murmansk
mencicipi sensasi aurora ala perang dunia kedua.
Mungkin juga mereka berebut menuju ke Paris,
berpesta pora menikmati kota penuh romansa.
Atau bisa jadi justru memilih bersantai di Brussel, sembari menikmati segelas cokelat panas.

Aku terdiam, menatap matahari yang sedang berlahan kembali ke peristirahatan.
Mengamati merpati yang begitu bergembira terbang mengantar senja.
Menatap langit yang berlahan berubah warna, menorehkan gradasi tentang cinta, logika dan realita.
Bermain kerikil, mengambilnya, melemparnya jauh ke danau, sekumpulan genangan air di pinggiran himpitan pegunungan baja dan kaca.

Tak banyak yang mampu aku lakukan, berbeda dengan yang aku pikirkan.
Berkecamuk dalam dan liar, tentang apa itu harapan yang sering paradoks dengan perjuangan.

Tak banyak yang mampu aku katakan, berbeda dengan yang aku tuliskan.
Terlalu frontal, terlalu retorik, dan kadang juga munafik.

Aku tak butuh Murmansk, tak juga Paris, apalagi Brussel,
tidak perlu sensasi, tak perlu romansa dan juga tak perlu sebuah kenikmatan belaka.
Aku memilih untuk berani saat ini,
memilih untuk tak kabur dengan sebuah gradasi,
memilih untuk tidak ragu dengan himpitan keadaan.

Sinar rembulan yang berlahan datang, menyapa pelan dalam gelap raguku,
berusaha menumbuhkan rasa yang tak sadar aku membuatnya mati.
Memberi harapan dalam keputus-asaan.
Meski akhirnya aku dipaksa untuk mengerti,
Jika suatu saat nanti, selama matahari masih menyinari
bumi akan terus berevolusi.


Thursday, February 15, 2018

Irama Kini atau Nanti

Tak ada hal yang lebih memilukan dibanding garam yang tak lagi asin. Tak ada kisah yang lebih menyedihkan dibanding daun yang tergeletak lemas tak berdaya tersapu angin dari sang dahan. Tak ada yang lebih membingungkan untuk melihat 2 sisi mata koin secara waktu yang bersamaan.

Orang bertanya-tanya tentang tujuan tentang masa depan. Orang sibuk saling mengejar kenyamanan nanti dan mengorbankan saat ini. Orang menjual diri untuk pengakuan, untuk pernyataan awal bukan sebuah kesimpulan. Orang akan susah makan jika tak menjadi serupa atau setidaknya tidak berbeda. Lalu kemunafikan menjadi hal yang biasa, seolah sudah menjadi sebuah irama, merasionalkan untuk menerimanya saja.

Rasio kehidupan seolah sedang disempitkan dan disederhanakan dalam sebuah panggung hiburan. Dimana esensi tak menjadi apa, asal sensasi berkesan untuk semesta. Pengertian tak menjadi hal yang utama, selama semua bisa menarik emosi, entah tentang tangis, atau tawa. Atau hal-hal akan jauh lebih menarik jika bukan bicara tentang visi atau prestasi, justru sekedar tentang citra atau retorika.

Angin akan selalu mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Lalu air akan terus mencoba menuju peristirahatannya. Dunia juga akan terus berputar, tergantung daun akan tergerus derasnya perubahan atau memilih memilih menjadi racun untuk dirinya sendiri.

Wednesday, February 7, 2018

4 Kisah

Sepertinya the sleeper harus skip beberapa PR tulisanku yang sebenarnya sudah dipersiapkan untuk di post, untuk menutup 2017 dan menggantinya dengan 2018. Ada satu hal yang malam ini bener-bener menampar the sleeper secara halus namun begitu berbekas, begitu berasa. Gie pernah berkata, jangan sekali-sekali menjadi munafik, dan tak apa untuk diasingkan, asal jangan kau jangan sekali-sekali menjadi seorang pembohong yang fatal, karena berbohong ke diri sendiri. Tapi secara tidak sadar, sepertinya itu justru yang sedang terjadi dalam perjalanan kehidupan the sleeper. Berjalan terlalu aman, sehingga begitu sombong untuk mau mewujudkan ide-ide dan impiannya. Terlalu naif mengembangkan pemikiran dan harapannya, tanpa mau merendahkan diri untuk berani mewujudnyatakan.

Mungkin kali ini the sleeper ingin bercerita tentang 4 kisah, pertama, the sleeper pernah bertemu dengan satu batuan lava, yang begitu mempesona, begitu bercahaya, dan sepertinya hampir semua orang-orang memujanya. Seandainya saja the sleeper bisa membawanya pulang, menjadikannya objek utama di aquascape yang ada. Tapi the sleeper harus tahu juga, bahwa batu ini juga begitu tajam, endapan dari letusan gunung purba kala itu membuatnya bisa merobek objek-objek yang berusaha bermain dengannya tanpa mau untuk memahami bagian-bagian mana saja yang bisa disentuh. Tapi the sleeper belajar, bahwa dia bisa seperti dia saat ini karena telah mengalami dua hal yang sangat membentuk, yaitu waktu dan tekanan. Dimana hal tersebut sudah semestinya dimanfaatkan dengan baik oleh batu lava ini. Di sisi lain, terkadang the sleeper juga tercengang, bahwa dia juga begitu fragile dibalik hal-hal mempesona yang ada pada dirinya.

Kedua, the sleeper mengenal seekor ikan salmon yang begitu unik, ya kita pasti tahu yang namanya ikan salmon pasti akan berenang melawan arus, melompat, berenang, melawan dan menghadapi tantangan tertangkap oleh beruang. Namun, salmon ini berbeda, dia tidak hanya sekedar melawan arah seperti yang teman-temannya lakukan, dia justru berenang menuju dunia yang benar-benar dia inginkan, meskipun terlihat aneh, dia berenang menuju kecabang sungai, berenang dimana air disana tak terlalu bersih, dengan arus yang cukup keras, sehingga tak banyak ikan yang memilih untuk berenang di sungai tersebut.

Ketiga, the sleeper mengenal sebuah putik bunga yang begitu wangi dan indah untuk di pandang. Namun putik ini berjuang sedemikian rupa, melawan naturnya, dia ingin menjadi bunga itu sendiri. Dia meronta, dia merintih, berusaha keras agar orang tak melihatnya sebagai putik, tapi bunga itu sendiri. Usahanya tak sia-sia, putik ini sangat menawan, sangat mempesona, sehingga tak ada serbuk sari yang menempel di bagiannya, karena begitu licinnya permukaan dan pertahanan yang dibuatnya untuk terlihat seperti bunga. Sehingga karena alam bawah sadarnya itu, ia lupa bagaimana untuk menjadi putik seharusnya.

Kisah keempat, kisah tentang daun yang memilih terbang bersama angin, yang dia mempertaruhkan harapannya, terbang tinggi atau terjatuh, tergeletak lalu mati.

Aneh saja, pemikiran-pemikiran ini bermunculan disaat logika terus menggerus, dan menjadikan the sleeper yang berjalan berdasarkan ketakutan, bukan kasih atau kebahagiaan yang seharusnya menjadi dasar. :)

Saturday, November 25, 2017

Perlukah kita Mendengar

Malam ini begitu pekat, suasana memang tidak mencekam, tapi tidak pula menenangkan, beberapa awan sayu-sayu menghalangi pandanganku, pengamatanku pada hal yang paling aku sukai, ya, daun yang menari manis, meskipun tidak sesemangat ketika tak ada hadir ku. Kala itu aku terkejut, ia terbang melayang entah kemana perginya, aku hanya mampu mengamatinya saja, tapi tariannya terasa begitu menjadi-jadi. Ia terlepas dari tempat dimana ia harusnya berada, ranting telah kehilangan dirinya, tertiup angin yang memang menghempas cukup kencang.

Lalu aku berusaha bertanya padanya, kenapa dia membiarkan angin itu membawa pergi dirinya, aku tahu keputusannya akan membuatnya tak berarti lagi. Baik bagi dirinya, atau pohon dimana ia besar bersama. Jawabannya pun cukup mencengangkan, dimana ia berkata bahwa angin tak salah, hanya ia saja yang tak mampu berpegang erat pada ranting dahan itu.

Pohon, oh, kenapa kamu begitu tega membiarkannya terlepas begitu saja, sebenarnya ada apa ini? Apakah ini hanya adu kekuatan antara angin dan pohon? Lalu favoritku yang menjadi korbannya? Lalu apa yang bisa dibanggakan kali ini? Akh sudahlah, dia pun begitu rendah hati tak mau menyalahkan siapa-siapa. Aku pun tak berani berkata lebih, aku tak punya kekuatan untuk menolongnya. Biarkan tanah menerimanya, mengijinkan untuk daun itu istirahat dan membusuk di dalamnya. 

Aku yang hanyalah bulan, yang mampu menunjukkan diri pada gelap hari. Seandainya, antara pohon atau angin sebentar saja mendengarkan dirimu, daun, tak akan kau menjadi korban seperti ini. Syukurlah kau masih begitu besar hati, mengakui bahwa kamu pun luput untuk berpegang erat.

Monday, October 9, 2017

Dilematik yang Munafik

Berlahan aku mencoba, merangkai beberapa kata, mereka-reka angan serta rasa yang terus mengusik dan membisik dalam benak ini. Perjalanan akan terus maju, entah langah memilih untuk rehat atau berlahan undur, namun bumi tak pernah menyerah untuk berotasi, lalu berevolusi, mengitari matahari, begitu dan begitu selanjutnya. Lalu tinggalah langkah kita, yang tertelan laju kemajuan, atau tetap berjuang dengan gerusan kecepatan.

The sleeper tak tahu bagaimana harus berespon. Jujur belakangan menjadi waktu-waktu yang begitu sulit untuk dimengerti. Jika boleh meminjam kata-kata munafik, mungkin itu adalah kata yang paling mengambarkan. Ingin rasanya untuk berbuat ini dan itu. Melakukan hal-hal yang akan bermakna demi kehidupan yang ada disekitarnya. Memberikan telinga untuk mendengar setiap teriakan, maupun merasakan setiap lirih keluhan. Menyediakan tangan untuk mengangkat beban yang mulai terasa berat, atau membiarkan pundak menggendong setiap kekecewaan.

Tapi disisi lain, untuk mampu tetap melakukan hal yang benar, itu sangat butuh perjuangan. Ketika pikiran mulai teracuni oleh ironi-ironi duniawi, atau hati yang begitu liar seolah mempermainkan kehidupan hanya sebagai sebuah drama. Tak akan layak sepertinya, seorang yang begitu pekat dengan lumpur, berusaha memandikan bayi yang baru belajar apa itu kata kebersihan.

Kehidupan ini cukup unik. Banyak ranah-ranah yang diperebutkan dan begitu diinginkan oleh segelintir orang. Namun ada juga ranah-ranah yang begitu terasa menjijikkan. Lalu cenderung mulai memilih-milih, mana-mana saja yang kiranya baik untuk dirinya. Banyak cerita-cerita yang begitu menyayat hati dibalik senyuman-senyuman. Ada kisah-kisah pilu dibalik tawa lebar yang terlontar. Juga mungkin ada keinginan untuk menyerah disetiap perjuangan yang sedang dilakukan. Entahlah, semuanya terjadi begitu unik, begitu ajaib. Semakin the sleeper mencoba mengertinya, semakin merasa bahwa dia bukanlah siapa-siapa, lalu tak bisa berbuat apa-apa.

Mungkinkah mukjizat itu benar-benar ada? Lalu haruskah aku menunggu? Atau memperjuangkannya? Disaat keberdosaan selalu berusaha menahan, setiap langkah yang sedang diperjuangkan.

Thursday, August 17, 2017

Angin tidak pernah memaksa Daun untuk Terbang

Sore itu aku tutup hari dengan menikmati hangat mentari, merasakan sinarnya yang berusaha menembus rindang dedaunan pohon. Lalu aku memutuskan beranjak dari perenungan singkat, menaiki motor tua yang sudah sejak tujuh tahun lalu menemani berkelana, mengetuk setiap pintu, berharap ada kebaikan pemilik untuk mengijinkan raga ini singgah sejenak, tentu, untuk melepas lelah berkendara panjang. Sungguh sore yang begitu sopan, tak ada lalu-lalang kendaraan besar yang memenuhi jalanan. Sungguh sore hingga petang yang akan begitu panjang, dimana mata itu menatap cukup dalam, menyampaikan satu dua kata yang sulit untuk diartikan.

Aroma tanah yang terhirup begitu lembut, setelah seharian panjang diguyur oleh tangisan alam menghentikan laju. Motor sudah diparkirkan, dan langkah ini berjalan mencari beberapa barang yang yang memang akan diperlukan untuk beberapa waktu kedepan. Ini namanya pasar, dunia hiburan, dimana ada begitu banyak pedagang yang mengadukan nasibnya dengan memajang beberapa barang, berharap ada beberapa orang sepertiku yang tergoda untuk menawarnya lalu membungkusnya membawa pulang. Tapi jujur aku sebenarnya tak begitu tertarik bahkan sama sekali tak tergoda dengan segala rayunya, jika saja aku tak benar-benar membutuhkan apa yang harus kucari, tentu aku lebih memilih duduk, membiarkan wajahku diusap hangat oleh mentari sore itu.

Lalu, siapa yang menyangka, jika malas dan raguku, seketika membuatku kaku, dikala samar-samar aku merasa mendengar ada yang sedang berucap. Bukan, dia tidak berucap dengan tuturnya, aku mendengar dari tatapannya. Konsentrasikupun buyar, dimana list barang-barang yang harusnya aku dapatkan seketika menguap, melayang hilang ditelan teka-teki dari kata-kata yang hendak disampaikannya.

Aku tak mau untuk terbang, aku tak mau untuk bergerak atau melangkah, bukan karena aku tak mau, tapi angin tak pernah memaksa daun untuk terbang, angin hanya berusaha menyapanya saja.


(Terinspirasi sebuah novel Tere Liye)

Friday, August 11, 2017

Agustus, Merdeka dan Retorika

Angka yang boleh tertampilkan kini sudah berpindah ke nomor 8. Sudah semakin tergerus rintik yang dulu sering membasahi bumi ini, tergantikan dengan matahari yang berlahan meninggalkan sisi utara menuju ke khatulistiwa lalu berlabuh di ufuk selatan bulan nanti. Negeriku akan berpesta pora kali ini, 72 tahun berjuang sebagai sebuah bangsa yang mandiri, ya sebentar lagi akan genap, 72 tahun. Momen ini sering dikenal dengan istilah perayaan Kemerdekaan. Sedikit salam dari seorang yang hobi menghabiskan waktu dengan tidurnya, selamat ulang tahun negeri tercinta, dari the sleeper.

Kali ini pemikiran semakin liar, mencoba mencari celah dan arti dari kata merdeka itu sendiri. Jika boleh sedikit menilik waktu kala itu, sangat terpatri jelas setiap kata-kata yang guru-guru boleh ucapkan, bahwa saat itu pagi-pagi sudah dipersiapkan sebuah upacara dimana akan diplokamirkan sebagai sebuah hari kemenangan oleh salah satu orang hebat pendiri bangsa ini, yaitu Soekarno. "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. . . . ." jika mendengarnya secara langsung memang sangat menggentarkan momen-momen pembacaan tersebut. Setelah itulah negeriku dengan bangga boleh mengatakan bahwa telah Merdeka.

Lalu benarkah negeriku ini sudah merdeka? Jika pengertian dari kemerdekaan dari KBBI sendiri adalah keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya). Benarkah demikian? Tapi jujur, entah ramuan apa yang telah Indonesia berikan, rasanya cinta selalu menang melawan kecewa, dimana sekarang kami sebagai rakyat lebih sering memilih untuk melukai dibanding menjaganya maupun menghargai. 

Sudahlah, bukan kapasitas the sleeper bicara mengenai kondisi-kondisi tersebut, the sleeper lebih tergelitik menilik apakah sudahkah pribadi ini mengalami yang namanya kemerdekaan itu sendiri? Atau masihkah memilih untuk terikat dengan hal-hal yang menghantui? Tabrakan antara kenyataan dengan harapan sering menyisakan tanya yang berujung pada luka.

Mungkin seringnya kesombongan menutupi nurani, sehingga lama-lama yang dikenal dengan istilah peka berlahan mati. Namun jika boleh sedikit meminjam status merdeka tadi, rasanya ingin menyampaikan suatu pesan, bahwa ketika memaksakkan senyuman dalam ratapan adalah hal yang cukup menyakitkan dan melelahkan.

Tapi kini, the sleeper memilih untuk menyiapkan teks proklamasi, menyiapkan kabinet, karena sebuah negeri tak mungkin berdiri di atas kaki satu orang saja. Meskipun dengan penuh kesadaran mengerti bahwa merdekapun tak menjamin bahwa seseorang akan bebas dari perjuangan. Negeri seberang akan selalu berusaha memperkosa harta yang kita miliki. Semoga angin membantu laju kapal ini untuk segera berlabuh, agar kiranya pengertian merdeka tak menjadi retorika, agar kiranya perjuangan itu sungguh nyata, untuk sesuatu yang orang tuju, kekekalan.